
Jcnews.id — Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHBUN) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ketahanan pangan daerah. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah melaksanakan running test atau uji operasional Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Desa Sukadamai, Kecamatan Natar.
Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung dan dipimpin langsung oleh Plt Kepala Dinas TPHBUN Lampung Selatan, Mugiono. Running test ini bertujuan untuk memastikan seluruh komponen JIAT—mulai dari sumur bor, pompa air, jaringan pipa, hingga bak penampungan—berfungsi secara optimal sebelum dimanfaatkan secara penuh oleh para petani.
Plt Kepala Dinas TPHBUN Lampung Selatan, Mugiono, menjelaskan bahwa JIAT merupakan solusi strategis dalam menjawab tantangan ketersediaan air pertanian, khususnya di wilayah yang masih bergantung pada curah hujan.
“JIAT dirancang untuk menjamin pasokan air pertanian secara berkelanjutan, terutama pada musim kemarau. Dengan sistem ini, petani tetap dapat melakukan kegiatan budidaya tanpa terkendala kekurangan air,” ujar Mugiono.
Di Desa Sukadamai telah dibangun sebanyak empat unit JIAT. Setiap unit mampu mengairi lahan sawah seluas 10 hingga 15 hektare, sehingga total cakupan lahan yang terlayani mencapai sekitar 40 hingga 60 hektare. Infrastruktur ini diharapkan dapat meningkatkan intensitas tanam sekaligus produktivitas pertanian di wilayah Kecamatan Natar.
Mugiono menambahkan, running test JIAT tersebut dilaksanakan di empat titik di Kecamatan Natar bersama BBWS Mesuji Sekampung. Ia berharap sarana irigasi yang telah dibangun dapat dikelola dan dimanfaatkan secara optimal oleh para petani.
“Kami berharap infrastruktur ini dapat dikelola dengan baik sehingga mampu meningkatkan indeks pertanaman padi yang sebelumnya hanya satu kali tanam dalam setahun menjadi dua kali, bahkan hingga tiga kali tanam dalam setahun,” tambahnya.
Pengembangan JIAT di Lampung Selatan merupakan bagian dari program berkelanjutan yang telah dimulai sejak tahun 2017 dan terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan hasil pertanian. Pada tahun 2025, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan juga tengah mengembangkan kawasan pertanian modern berbasis teknologi sebagai bagian dari transformasi menuju smart farming.
Dari sisi operasional, JIAT menggunakan tenaga listrik dengan biaya yang relatif rendah, yakni sekitar Rp16.000 hingga Rp20.000 per jam. Sistem ini dinilai lebih efisien, ramah lingkungan, serta mampu menekan biaya produksi petani.
Melalui kegiatan running test ini, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan berharap pembangunan JIAT dapat terus diperluas, khususnya untuk mendukung irigasi lahan sawah tadah hujan agar dapat dimanfaatkan secara produktif sepanjang tahun. Upaya tersebut sejalan dengan visi pembangunan daerah “Lampung Selatan Maju”, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani serta mendukung tercapainya swasembada pangan daerah.(Red)
